Home HPA Parimo Gelar Haul Pertama Syarifah Sadiyah Aljufri

HPA Parimo Gelar Haul Pertama Syarifah Sadiyah Aljufri

Alkhairaat Parimo – Pondok Pesantren (Ponpes) Abnaul Khairaat Parigi menjadi tempat digelarnya haul yang pertama Syarifah Sa’diyah Aljufri yang bertempat di halaman Pondok Pesantren Pada Minggu, (13/02/2022).

Haul pertama Syarifah Sa’diyah Aljufri yang merupakan anak dari Pendiri Alkhairaat Habib Idrus bin Salim Aljufri atau yang dikenal Guru Tua itu dihadiri langsung anak ke-8 Syarifah Sadiyah Aljufri, Habib Hasan AlHabsyi beserta cucunya Habib Sadig AlHabsyi.

Habib Hasan dalam ceramahnya mengatakan bahwa Syarifah Sadiyah merupakan guru perempuan pertama di Madrasah Alkhairaat dan lembaga WIA merupakan Lembaga pertama di lingkungan Alkhairaat.

Ketua HPA Parigi Moutong, Muhammad Ridwan mengatakan, dalam haul ini banyak mengambil hikmah karena Ibu Syarifah Sadiyah Aljufri merupakan seorang tokoh yang patut di contoh.

“Kami selaku panitia pelaksana dan juga selaku Pengurus Himpunan Pemuda Alkhairaat banyak mengambil hikmah dalam haul ini bahwa Syarifah Sadiyah Aljufri tersebut merupakan dari kipranya untuk membangun umat Islam khususnya di Parigi Moutong umumnya di Sulawesi Tengah,” kata Ketua HPA Parimo.

Ia berharap, agar seluruh Abnaul Khairaat atau masyarakat dapat mendukung pada setiap setiap kegiatan sebagai bentuk kecintaan kepada para tokoh yang telah berjasa di daerah ini.

“Selaku panitia pelaksana, kami berharap para Abnaul Khairaat ataupun masyarakat pada umumnya dapat mendukung di setiap kegiatan kegiatan ini sehingga kecintaan kita kepada para habib dan para tokoh-tokoh yang telah berjasa di daerah ini tentunya kita sangat mengapresiasi dengan sangat baik,” harapnya.

Habib Hasan Alhabsyi bersama Pengurus HPA Parigi Mautong

Kemudian pada kesempatan yang sama, cucu dari cicit dari Habib Idrus Bin Salim Aljufri (Guru Tua) atau cucu dari Syarifah Saadiyah Bin Aljufri yang juga merupakan Tokoh Mudah Alkhairaat, Habib Sadiq AlHabsyi mengucapkan banyak terima kasih kepada HPA Parimo dan Pondok Pesantren Abnaul khairaat Parigi karena sudah membuat haul yang pertama Syarifah Sa’diyah Aljufri.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada panitia dan Pondok Pesantren Abnaul Khairaat Parigi karena sudah menggelar haul yang pertama Ibu Syarifah Sa’diyah Aljufri dan insha allah ini akan terus dibuat pada tahun-tahun selanjutnya,” ucapnya.

Home Tokoh Muda Alkhairaat Serukan Pemprov Sulawesi Tengah Serius Kelola SDA

Tokoh Muda Alkhairaat Serukan Pemprov Sulawesi Tengah Serius Kelola SDA

Tokoh muda Alkhairaat, Habib Mohammad Sadig al-Habsyi menyerukan agar Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) lebih serius dalam mengelola sumber daya alam (SDA) demi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Seruan ini ia sampaikan setelah diskusi terkait peluang investasi di Sulteng yang diselenggarakan oleh media online Alkhairaat.com, Senin (07/02/2022).

“Saya memperhatikan, sejauh ini Pemrov Sulawesi Tengah belum serius mengelola sumber daya alam yang Tuhan berikan demi kesejahteraan masyarakatnya. Angka kemiskinan di provinsi ini masih tinggi. Di atas 13 persen,” terangnya.

Cicit dari pendiri Alkhairaat itu juga menyinggung potensi SDA Sulteng yang belakangan menjadi sorotan.

“Provinsi ini memiliki 7 potensi utama yang dapat dimaksimalkan demi meningkatkan kesejahteraan sosial sesuai amanat undang-undang. Salah satu yang terbesar bahkan mungkin di dunia adalah nikel. Tapi apa dampaknya bagi masyarakat hari ini? Nikel yang dikeruk habis-habisan di Morowali apakah berdampak pada jaminan kesehatan dan pendidikan masyarakat Sulteng? Saya kira belum,” tegasnya.

Dalam padangannya, Pemprov Sulteng harus segera memperbaiki tata kelola SDA-nya.

“Segala sesuatu intinya ada di pengelolaan. Imam ‘Ali pernah berujar, kebaikan yang tidak terstruktur kalah oleh keburukan terstruktur. Jadi, sebaik apapun pemerintahan, bila tidak memiliki pengelolaan yang baik, tidak bisa memberikan manfaat dan menjalankan amanahnya,” pungkas Ketua Dewan Penasihat LS-ADI tersebut.

Home Tahlilan Dan Doa 40 Hari Wafatnya Habib Saggaf Aljufri

Tahlilan Dan Doa 40 Hari Wafatnya Habib Saggaf Aljufri

Kamis (16/9/2021) merupakan 40 hari wafatnya Ketua Utama Alkhairaat, Habib Saggaf Aljufri.

Pihak keluarga Alkhairaat pun mengadakan acara doa dan tahlilan di Pondok Pesantren (Ponpes) Alkhairaat Madinatul Ilmi, yang dihadiri oleh ratusan Abnaul Khairaat.

Hal tersebut terlihat dari unggahan video siaran langsung Facebook Humas Universitas Alkhairaat (Unisa), @unisapalu, dikutip Alkhairaat.sch.id, Jumat, (17/9/2021).

Dalam video unggahan itu, tampak hadir beberapa pejabat negar seperti, Wakil Ketua MPR-RI, Prof. Dr. Ir. Fadel Muhammad Al-Haddar, Anggota DPD-RI, DR. Saleh Aljufri, Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Rusdy Mastura, Gubernur Maluku Utara (Malut), Ustad Abdul Ghani Kasuba, Lc., Bupati Sigi, Mohamad Irwan Lapatta, M.Si., dan Drs. Ridwan Yalidjama.

Turut hadir dalam acara tersebut beberapa petinggi dan pimpinan lembaga Alkhairaat seperti, PLT. Ketua Utama Alkhairaat, DR. Alwi Aljfuri, Ketua Umum PB Alkhairaat, Habib Ali Aljufri, Rektor Universitas Alkhairaat, DR. Umar al-Attas, S.Pi.,M.Si., Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Alkhairaat Putri, Habib DR. Hasan Alhabsyi, Lc., M.Ag., Pimpinan Ponpes Madinatul Ilmi, Habib DR. Ali Aljufri, Pimpinan Ponpes Alkhairaat Putra, Habib Idrus bin Abdillah Aljufri.

Berita lain: Ince Ami Sosok Khadijah di Alkhairaat

Acara dimulai dengan pembacaan Tahlil yang dipimpin oleh Habib DR. Hasan Alhabsyi, Lc., M.Ag., dan pembacaan Doa Tahlil sekaligus sambutan oleh Habib Ali Aljufri.

Pembacaan Tahlil 40 hari wafatnya Almarhum Habib Saggaf Aljufri dipimpin oleh Habib Hasan Alhabsyi
Dalam sambutannya, Habib Ali Aljufri menceritakan sebuah kisah tentang pertemuan antara ustad Saleh yang berasal dari Morowali dengan Almarhum Habib Saggaf Aljufri. Dalam pertemuan terebut, ustad Saleh meminta untuk pensiun mengajar karena sudah lanjut usia (65 tahun lebih). Namun keinginan Ustad Saleh itu ditolak oleh Habib Saggaf Aljufri.

Habib DR. Hasan Alhabsyi, Lc, M.Ag., pimpin pembacaan Tahlil

Pembacaan Doa sekaligus sambutan oleh Habib Ali Aljufri, Ketua Umum PB Alkhairaat
“Habib Saggaf Aljufri berkata kepada Ustad Saleh: Nt pernah ana ajar. Dan sampai sekarang saya masih mengajar,” ungkap Ketua Umum PB Alkhairaat.

Pembacaan Doa dan Sambutan oleh Habib Ali Aljufri, Lc.

Menurut Habib Ali, mengajar merupakan amanah dari pendiri Alkhairaat, Habib Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua).

“Kami berharap Abnaul Khairaat yang punya ilmu, sampaikan ilmu itu. Untuk kita kembangkan apa yang jadi cita-cita pendiri Alkhairaat. Semoga kita akan mendapat dan bersama Habib Idrus di Hari Kebangkitan nanti,” tutup Habib Ali Aljufri.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Gubernur Maluku Utara, Ustad Ghani Kasuba, Lc., yang menceritakan kisah tentang kegelisahan Guru Tua sebelum wafat karena tidak adanya Ustad Saggaf Aljufri di Kota Palu.

Berita lain: HPA Tarakan Gelar Milad Alkhairaat ke 91 Tahun

Sambutan dari murid Guru Tua, Ustad Abdul Ghani Kasuba, Lc.
“Habib Idrus saat itu hanya tanya mana Saggaf. Sampai mau meninggal. Ada bahasa beliau waktu itu katanya mau ke Hadramaut. Menurut Almarhumah Ite (Ince Ami istri Guru Tua) itu adalah isyarat mau meninggal,” ungkap Ustad Ghani.

Murid Guru Tua, Ustad Abdul ghani Kasuba, Lc.

Ustad Ghani menambahkan bahwa palu ini penuh dengan orang-orang keramat. Dimana Guru Tua dan Habib Saggaf telah tinggalkan generasi yang luar biasa.

“Silahkan mau bikin Alkhairaat yang namanya apa, Alkhairaat Nur inikah, Alkhairaat inikah, silahkan. Kita bikin masing-masing tapi, aset itu kita bikin jangan sampai kita saling bertabrakan, sehingga kita melupakan orang-orang yang membangun, yang berjasa dengan Alkhairaat ditempat itu,” ujar Ustad Ghani.

“Kepada keturunan dari Habib Idrus (Guru Tua) untuk satukan langkah, jangan sampai kita yang ditabrakan oleh orang lain, akhirnya kita akan berantakan dan tidak dapatkan apa-apa,” tambah Ustad Ghani.

Selanjutnya dilanjutkan denagn sambutan dari Wakil Ketua MPR-RI, Prof. Dr. Ir. Fadel Muhammad Al-Haddar, Anggota DPD-RI yang menceritakan tentang amanah dari Ketua Utama Alkhairaat mengenai pucuk pimpinan Alkhairaat.

Berita lain: Ribuan Isak Tangis di Peristirahatan Terakhir Syarifah Sadiyah Aljufri

Sambutan dari Wakil Ketua MPR-RI, Prof. Fadel Muhammad.
“Kami yang lalu sudah rapat berkali-kali, bicara, tetap beliau (Almarhum Habib Saggaf Aljufri) mengatakan hanya mengangkat, yang saya hormati saudara, Habib Alwi, PLT Ketua Utama yang diangkat oleh beliau sendiri, dan PB-nya tetap Habib Ali,” ujar mantan Gubernur Gorontalo itu.

Sambutan Prof. Dr. Ir. Fadel Muhammad Al-Haddar, Wakil Ketua MPr-RI.

“Kita ikut apa yang merupakan amanah, pesan yang sudah ada, mengalir seperti air, dan insya Allah akan sampai saatnya kita meneruskan bersama-sama Alkhairaat,” tutup Fadel.

Selanjutnya sambutan dilanjutkan oleh DR. Alwi bin Saggaf Aljufri, MA., yang menceritakan tentang nasehat-nasehat yang diceritakan oleh Almarhum ayahanda ketika ia masih kecil.

Sambutan PLT Ketua Utama, DR. Alwi Aljufri, Lc, MA.

Sambutan dari Plt. Ketua Utama Alkhairaat, DR. Alwi bin Saggaf Aljufri.
“Buka mata, buka telinga, tutup mulut,” ungkap Plt Ketua Utama itu.

Pesan pertama, Buka Mata, menurutnya ini adalah anjuran untuk melakukan sesuatu itu dengan objektif, bukan subjektif.

“Lakukan sesuatu itu berdasarkan objektivitas, jangan subjektivitas, jangan berdiri diatas asumsi, jangan ada like dan dislike, tinggalkan itu semua,” ujarnya.

Pesan kedua, Buka Telinga, artinya kita jangan tipis telinga.

“Dengar kritikan, dengar masukan yang membangun,” ujarnya.

DR. Alwi Aljufri mengungkapkan saat dirinya berumur 15 tahun, ia pernah ditegur oleh ayahanda karena dirinya banyak salah dalam membaca. Melihat dirinya yang tidak terima ditegur, ayahanda kemudian berkata:

“Seseorang itu yang mau jadi pemimpin harus siap menerima kritikan, harus siap menerima teguran,” ungkapnya.

Pesan ketiga, Tutup Mulut, menurutnya pesan ini berhubungan dengan agama seseorang.

“Dari baiknya Islamnya seseorang, meninggalkan hal-hal yang bukan urusanya. Disamping menjaga prilaku, sikap, mulut jangan ada dusta,” tambahnya.

DR. Alwi Aljufri kemudian menceritakan tentang perjalanan beliau bersama ayahanda yang menurutnya adalah pesan terakhir dari Almarhum.

“Bagaimana kita bersama-sama untuk menjaga warisan ini agar tetap jaya seperti apa yang dikatakan oleh pendahulu-pendahulu kita semua,” tutupnya.

Home Ince Ami Sosok Khadijah di Alkhairaat

Ince Ami Sosok Khadijah di Alkhairaat

Hj. Ince Ami, atau yang karib disapa Ite, adalah salah seorang istri dari pendiri Yayasan Pendidikan Islam Alkhairaat, Habib Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua). Dari sisi peran, sosok Ite tak ubahnya Sayyidah Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW.

Sayyidah Khadijah adalah seorang bangsawan yang seluruh kekayaannya diwakafkan kepada Rasulullah untuk perjuangan agama Islam. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah adalah milik Khadijah. Namun mejelang wafat Khadijah tidak memiliki kain kafan yang bisa digunakan untuk menutupi jasadnya. Hingga turunlah malaikat Jibril membawakan kain kafan untuk Sayyidah Khadijah.

Seperti Khadijah yang berperan besar dalam dakwah Rasulullah SAW dan penyebaran agama Islam, Ite adalah perempuan pertama di Lembah Palu yang berjasa dalam pengembangan pendidikan di Lembah Palu (Kota Palu), khususnya pendirian dan pengembangan sekolah/madrasah pendidikan Alkhairaat.

Makam Hj. Ince Ami atau dikenal dengan panggilan “Ite”

Ince Ami merupakan salah satu perempuan bangsawan di Tanah Kaili, khususnya Lembah Palu (Kota Palu), yang mempunyai harta kekayaan berlimpah. Perjuangan Ite dalam mengembangkan Alkhairaat dimulai dari menjadikan rumahnya sebagai asrama bagi para pelajar di Alkhairaat, tanpa ada pungutan biaya.

“Rumahnya Ite itu dua lantai. Lantai bawah untuk tempat tinggal laki-laki, sedangkan perempuan tinggal diatas bersama Ite dan Guru Tua,” ungkap Habib Salim Bin Syeh Abu Bakar (Habib Mem).

Setelah lahirnya dua putri beliau, Syarifah Sidah binti Idrus Aljufri dan Syarifah binti Idrus Aljufri, muncul keinginan Guru Tua untuk membangun sekolah atau madrasah Alkhairaat dan membawa kedua keponakannya serta istri Guru Tua, Syarifah Aminah Aljufri ke Lembah Palu untuk membantunya. Ite kemudian mewakafkan tanah di Jalan Sis Aljufri (Depan Hotel Palu City) dan dibangunlah madrasah pertama Alkhairaat, rumah, dan asrama bagi murid laki-laki dilokasi tanah tersebut.

“Aba saya tiga hari di rumahnya Ite, dan empat hari di ibunya dorang ustad Saggaf. Kalau hari Jumat Aba saya sholat di Masjid Jami dan makan siang bersama di rumahnya Ite,” ungkap Syarifah Sadiyah.

Tokoh terkait: Alkhairaat dan Keluarga Lamakarate

“Dulu namanya bukan asrama, tapi anak tinggal. Jadi yang tinggal dengan kitorang di Kampung Baru sudah perempuan semua, laki-laki tinggal sama Aba di Sis Aljufri (Jalan Sis Aljufri), termasuk Habib Ali bin Husen Alhabsyi (suami Syarifah Sidah binti Idrus Aljufri), Habib Idrus bin Husen Alhabsyi (suami Syarifah Sadiyah binti Idrus Aljufri), dan Habib Muhajir bin Husen Alhabsyi,” ujar Syarifah Sadiyah.

Pondok Pesantren Alkhairaat Putri Pusat Palu.

Setelah penamatan para siswa dan siswi Alkhairaat, Ite pun kembali mewakafkan tanah seluas 5 hektar yang saat ini dikenal sebagai Komplek Alkhairaat, untuk pembangunan Mualimin Alkhairaat, setingkat SMA.

Berdirinya Mualimin Alkhairaat semakin menambah kemajuan pendidikan di Alkhairaat. Disamping makin banyaknya siswa-siswi baru dari berbagai daerah di Indonesia Timur, para lulusan Mualimin Alkhairaat juga dikirim ke berbagai daerah untuk membangun cabang madrasah Alkhairaat, bahkan menjadi tenaga pengajar di cabang-cabang Alkhairaat di kawasan Indonesia Timur.

Kesungguhan Ite dalam pendidikan di Alkhairaat mendapatkan respon positif dari pihak keluarganya. Ite yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan kerajaan di Lembah Palu dan Kerajaan Sigi, serta organisasi Sarekat Islam (SI) berbuah manis dengan semakin bertambahnya cabang-cabang madrasah Alkhairaat di Lembah Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Parigi.

Pada era penjajahan Jepang terjadi penutupan madrasah Alkhairaat yang mengakibatkan seluruh aktivitas pendidikan di Alkhairaat harus dihentikan. Pada saat itu beberapa kegiatan belajar mengajar dilakukan dirumah Ite dengan hanya menggunakan lampu minyak.

“Waktu Jepang tutup madrasah Alkhairaat, kitorang (kami) hanya belajar dirumah. Beberapa murid senior pernah mengajar kami, salah satunya Ustad Mahfud Godal. Kalau ibu saya (Ite) memang guru mengaji.”

Ite yang memahami posisi Guru Tua sebagai juru dakwah dan pengajar tidak ingin membebani Guru Tua dengan memikirkan keadaan keluarga dirumah dan para murid yang tinggal bersama mereka. Ite pun lewat bantuan keluarganya mengupayakan bantuan dalam bentuk sembako untuk mereka dirumah.

“Saya (Syarifah Sadiyah) bersama Aba (Guru Tua) mengambil sembako naik gerobak ke Sigi, Pewunu, mengambil beras dari rumah kerabat Ite, untuk makanan orang dirumah.” ungkap Syarifah Sadiyah.

Ziarah makam Ince Ami (Ite) di Masjid Alkhairaat

Di akhir hayatnya Ince Ami (Ite) melalui anaknya, Syarifah Sadiyah binti Idrus Aljufri meminta untuk dimakamkan disamping kubur suaminya, Habib Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua).

Home Abnaul Khairaat Berduka, Prof Huzaemah Meninggal Dunia

Abnaul Khairaat Berduka, Prof Huzaemah Meninggal Dunia

Kader Alkhairaat, Prof. DR. Huzaemah T. Yanggo, MA, atau yang akrab dipanggil Ustadzah Huzaemah meninggal dunia di RSUD Banten, Jumat, (23/7).

Diketahui sebelumnya, Prof. Dr. Huzaemah T. Yanggo, MA., masih menyempatkan diri via media Zoom mengikuti Tahlil anak pendiri Alkhairaat, Alm. Hj. Syarifah Sadiyah binti Idrus bin Salim Aljufri sekaligus pengukuhan Pengurus Alumni Ponpes Alkhairaat Putri Pusat Palu, Minggu, 11/7).

Ustadzah Huzaemah adalah perempuan kelahiran Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), 30 Desember 1946 (74 tahun) merupakan pakar ilmu Fikih, bidang Perbandingan Mazhab. Dimana pada tahun 2019 lalu, beliau menjadi salah satu pembicara dalam acara “Al-Idaarotul Hadhoriyah Lil Fiqhi Khilafi,” yang berlangsung di Cairo, Mesir. Mantan Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) ini hadir atas penunjukan dan undangan langsung dari Mufti Mesir, Syeikh Shawki Ibrahim Abdel Karim Allam.

“Saya di undang sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Fatwa. Dan menunjuk langsung nama saya. Di Indonesia kan tidak ada mufti, jadi di anggap sebagai mufti Indonesia itu saya,” ungkapnya

Ustadzah Huzaemah pernah menjabat sebagai Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Putri Alchairaat Pusat Palu yang saat ini telah berubah nama menjadi Pondok Pesantren (Ponpes) Alkhairaat Putri Pusat Palu (1985). Beliau merupakan guru besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah yang kini juga menjabat sebagai rektor Institut Ilmu Al-Quran, Jakarta (2018-2022). Ustadzah Huzaemah juga aktif menjadi anggota MUI, ia menjadi anggota Komisi Fatwa MUI sejak tahun 1987 & anggota Dewan Syariah Nasional MUI sejak 1997 dan 2000. Beliau juga pernah menjabat sebagai ketua bidang Fatwa MUI. Pada 2000, ustadzah Huzaemah diangkat menjadi Ketua MUI Pusat Bidang Pengajian dan Pengembangan sosial.

Ustadzah Huzaemah menempuh pendidikan dasar hingga perguruan tinggi di lembaga pendidikan Alkhairaat.

Pada 1975, ia meraih gelar Sarjana Muda (BA) dari Fakultas Syariah Universitas Islam (Unis) Alkhairaat yang saat ini telah berubah nama menjadi Universitas Alkhairaat (Unisa). Berselang dua tahun, ustadzah melanjutkan studinya ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir hingga meraih gelar Master of Arts (MA) pada 1981 dan gelar doktor pada 1984 yang masing-masing mendapatkan predikat memuaskan (yudicium cumlaude).

Setelah menamatkan pendidikan di Universitas Alkhairaat tahun 1975, ustadzah Huzaemah menyempatkan diri untuk mengabdi di Alkhairaat. Pada tahun 1985, Hj. Syarifah Sadiyah binti Idrus bin Salim Aljufri mengangkat ustadzah Huzaemah sebagai pimpinan Ponpes Alkhairaat Putri Pusat Palu.

Tahun 1992-1996 sebagai anggota POKJA MENUPW. Tahun 1994-1998, ustadzah Huzaemah diangkat sebagai Ketua Pusat Pembelajaran Wanita IAIN Jakarta. Tahun 1996, ustadzah Huzaemah menjabat Ketua Pengurus Besar Persatuan Wanita Islam Alkhairaat Pusat. Tahun 1998, beliau memperoleh penghargaan sebagai salah seorang Tokoh Peningkatan Peranan Wanita dari Menteri Wanita. Pada 2018, Huzaemah menjadi Pembantu Dekan I di Fakultas Syariah dah Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan menjabat direktur Program Pascasarjana Institut Ilmu al-Quran (IIQ) dan sekaligus Rektor Institut Ilmu Alquran periode 2014-2018 dan berlanjut 2018-2022. Huzaemah mengajar di tiga universtas, yaitu UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan Universitas Indonesia. Selain aktif di dunia akademik, Huzaemah juga pernah menjadi anggota dewan pengawas syariah di Bank Niaga Syariah pada 2000.

Berita lain: HPA Tarakan Gelar Milad Alkhairaat ke 91 Tahun

Tulisan ustadzah Huzaemah telah menghiasai banyak majalah dan media seperti, Majalah Ahkam, Harkat, Akrab dan Studia Islamika. Beliau juga mengisi Forum Konsultasi Agama Islam dalam majalah PARAS.
Beberapa karya ustadzah Huzaemah yang telah diterbitkan antara lain, Pandangan Islam tentang Gender, Pengantar Perbandingan Mahzab, Konsep Wanita dalam Pandangan Islam, Fiqih Perempuan Kontemporer, Masail Fiqhiyah: Kajian Fiqih Kontemporer.

Home Ini Pesan Rektor Unisa Pada Mahasiswa Peraih Beasiswa Bank Indonesia

Ini Pesan Rektor Unisa Pada Mahasiswa Peraih Beasiswa Bank Indonesia

Universitas Alkhairaat (Unisa), Palu kembali mendapatkan bantuan dana beasiswa dari Bank Indonesia (BI) perwakilan Sulawesi Tengah, senilai enam ratus juta rupiah, yang diperuntukkan bagi lima puluh mahasiswa Unisa berprestasi.

Sebelumnya, mahasiswa yang dinyatakan lulus seleksi tersebut telah melalui serangkaian test hingga wawancara dari pihak Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tengah.

“Yang mendapatkan beasiswa ini adalah mahasiswa pilihan, karena mereka telah melalui serangkaian test, hingga akhirnya terpilih, manfaatkan dengan baik bantuan yang anda terima untuk pendidikan, bukan yang lain, kalian adalah duta Unisa,” kata Rektor Unisa, Dr. Umar Alatas, Jumat, (2/7).

Mahasiswa penerima manfaat itu kata Rektor, menerima beasiswa senilai Rp 12 juta rupiah per mahasiswa selama dua semester.

Rektor Unisa, Umar Alatas berharap, mahasiswa penerima manfaat lebih giat lagi belajar, tingkatkan prestasi akademik maupun non akademik, karena pihak Bank Indonesia akan terus memantau dan membina serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui organisasi sosial mahasiswa GenBI.

Mahasiswa penerima beasiswa, lanjut Rektor, harus memiliki keunggulan akademik, keterampilan, etika dan akhlak.

“Kalian harus menjadi contoh bagi mahasiswa lain di kampus ini, lebih unggul dari segi prestasi akademik dan non akademik, etika dan akhlak, serta terampil,” petuah Rektor.

Berita lain: Haul Guru Tua ke-53 

Dr. Umar Alatas mengatakan, bantuan itu merupakan salah satu program BI di bidang pendidikan, khususnya di Perguruan Tinggi, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia oleh pemerintah. Bantuan dari BI tahun ini kata Rektor merupakan yang ketiga kalinya untuk Kampus Unisa Palu.

Selain Unisa, tiga Universitas lainnya juga mendapatkan bantuan yang sama, yakni, Universitas Tadulako (Untad), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Palu dan Universitas Muhammadiyah (Unismuh), Palu.

Penulis: Ridwan Laki
Sumber: Wartakiat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here