Home Blog

Ince Ami Sosok Khadijah di Alkhairaat

0

Hj. Ince Ami, atau yang karib disapa Ite, adalah salah seorang istri dari pendiri Yayasan Pendidikan Islam Alkhairaat, Habib Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua). Dari sisi peran, sosok Ite tak ubahnya Sayyidah Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW.

Sayyidah Khadijah adalah seorang bangsawan yang seluruh kekayaannya diwakafkan kepada Rasulullah untuk perjuangan agama Islam. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah adalah milik Khadijah. Namun mejelang wafat Khadijah tidak memiliki kain kafan yang bisa digunakan untuk menutupi jasadnya. Hingga turunlah malaikat Jibril membawakan kain kafan untuk Sayyidah Khadijah.

Seperti Khadijah yang berperan besar dalam dakwah Rasulullah SAW dan penyebaran agama Islam, Ite adalah perempuan pertama di Lembah Palu yang berjasa dalam pengembangan pendidikan di Lembah Palu (Kota Palu), khususnya pendirian dan pengembangan sekolah/madrasah pendidikan Alkhairaat.

Makam Hj. Ince Ami atau dikenal dengan panggilan “Ite”

Ince Ami merupakan salah satu perempuan bangsawan di Tanah Kaili, khususnya Lembah Palu (Kota Palu), yang mempunyai harta kekayaan berlimpah. Perjuangan Ite dalam mengembangkan Alkhairaat dimulai dari menjadikan rumahnya sebagai asrama bagi para pelajar di Alkhairaat, tanpa ada pungutan biaya.

“Rumahnya Ite itu dua lantai. Lantai bawah untuk tempat tinggal laki-laki, sedangkan perempuan tinggal diatas bersama Ite dan Guru Tua,” ungkap Habib Salim Bin Syeh Abu Bakar (Habib Mem).

Setelah lahirnya dua putri beliau, Syarifah Sidah binti Idrus Aljufri dan Syarifah binti Idrus Aljufri, muncul keinginan Guru Tua untuk membangun sekolah atau madrasah Alkhairaat dan membawa kedua keponakannya serta istri Guru Tua, Syarifah Aminah Aljufri ke Lembah Palu untuk membantunya. Ite kemudian mewakafkan tanah di Jalan Sis Aljufri (Depan Hotel Palu City) dan dibangunlah madrasah pertama Alkhairaat, rumah, dan asrama bagi murid laki-laki dilokasi tanah tersebut.

“Aba saya tiga hari di rumahnya Ite, dan empat hari di ibunya dorang ustad Saggaf. Kalau hari Jumat Aba saya sholat di Masjid Jami dan makan siang bersama di rumahnya Ite,” ungkap Syarifah Sadiyah.

Tokoh terkait: Alkhairaat dan Keluarga Lamakarate

“Dulu namanya bukan asrama, tapi anak tinggal. Jadi yang tinggal dengan kitorang di Kampung Baru sudah perempuan semua, laki-laki tinggal sama Aba di Sis Aljufri (Jalan Sis Aljufri), termasuk Habib Ali bin Husen Alhabsyi (suami Syarifah Sidah binti Idrus Aljufri), Habib Idrus bin Husen Alhabsyi (suami Syarifah Sadiyah binti Idrus Aljufri), dan Habib Muhajir bin Husen Alhabsyi,” ujar Syarifah Sadiyah.

Pondok Pesantren Alkhairaat Putri Pusat Palu.

Setelah penamatan para siswa dan siswi Alkhairaat, Ite pun kembali mewakafkan tanah seluas 5 hektar yang saat ini dikenal sebagai Komplek Alkhairaat, untuk pembangunan Mualimin Alkhairaat, setingkat SMA.

Berdirinya Mualimin Alkhairaat semakin menambah kemajuan pendidikan di Alkhairaat. Disamping makin banyaknya siswa-siswi baru dari berbagai daerah di Indonesia Timur, para lulusan Mualimin Alkhairaat juga dikirim ke berbagai daerah untuk membangun cabang madrasah Alkhairaat, bahkan menjadi tenaga pengajar di cabang-cabang Alkhairaat di kawasan Indonesia Timur.

Kesungguhan Ite dalam pendidikan di Alkhairaat mendapatkan respon positif dari pihak keluarganya. Ite yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan kerajaan di Lembah Palu dan Kerajaan Sigi, serta organisasi Sarekat Islam (SI) berbuah manis dengan semakin bertambahnya cabang-cabang madrasah Alkhairaat di Lembah Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Parigi.

Pada era penjajahan Jepang terjadi penutupan madrasah Alkhairaat yang mengakibatkan seluruh aktivitas pendidikan di Alkhairaat harus dihentikan. Pada saat itu beberapa kegiatan belajar mengajar dilakukan dirumah Ite dengan hanya menggunakan lampu minyak.

“Waktu Jepang tutup madrasah Alkhairaat, kitorang (kami) hanya belajar dirumah. Beberapa murid senior pernah mengajar kami, salah satunya Ustad Mahfud Godal. Kalau ibu saya (Ite) memang guru mengaji.”

Ite yang memahami posisi Guru Tua sebagai juru dakwah dan pengajar tidak ingin membebani Guru Tua dengan memikirkan keadaan keluarga dirumah dan para murid yang tinggal bersama mereka. Ite pun lewat bantuan keluarganya mengupayakan bantuan dalam bentuk sembako untuk mereka dirumah.

“Saya (Syarifah Sadiyah) bersama Aba (Guru Tua) mengambil sembako naik gerobak ke Sigi, Pewunu, mengambil beras dari rumah kerabat Ite, untuk makanan orang dirumah.” ungkap Syarifah Sadiyah.

Ziarah makam Ince Ami (Ite) di Masjid Alkhairaat

Di akhir hayatnya Ince Ami (Ite) melalui anaknya, Syarifah Sadiyah binti Idrus Aljufri meminta untuk dimakamkan disamping kubur suaminya, Habib Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua).

Abnaul Khairaat Berduka, Prof Huzaemah Meninggal Dunia

0

Kader Alkhairaat, Prof. DR. Huzaemah T. Yanggo, MA, atau yang akrab dipanggil Ustadzah Huzaemah meninggal dunia di RSUD Banten, Jumat, (23/7).

Diketahui sebelumnya, Prof. Dr. Huzaemah T. Yanggo, MA., masih menyempatkan diri via media Zoom mengikuti Tahlil anak pendiri Alkhairaat, Alm. Hj. Syarifah Sadiyah binti Idrus bin Salim Aljufri sekaligus pengukuhan Pengurus Alumni Ponpes Alkhairaat Putri Pusat Palu, Minggu, 11/7).

Ustadzah Huzaemah adalah perempuan kelahiran Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), 30 Desember 1946 (74 tahun) merupakan pakar ilmu Fikih, bidang Perbandingan Mazhab. Dimana pada tahun 2019 lalu, beliau menjadi salah satu pembicara dalam acara “Al-Idaarotul Hadhoriyah Lil Fiqhi Khilafi,” yang berlangsung di Cairo, Mesir. Mantan Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) ini hadir atas penunjukan dan undangan langsung dari Mufti Mesir, Syeikh Shawki Ibrahim Abdel Karim Allam.

“Saya di undang sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Fatwa. Dan menunjuk langsung nama saya. Di Indonesia kan tidak ada mufti, jadi di anggap sebagai mufti Indonesia itu saya,” ungkapnya

Ustadzah Huzaemah pernah menjabat sebagai Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Putri Alchairaat Pusat Palu yang saat ini telah berubah nama menjadi Pondok Pesantren (Ponpes) Alkhairaat Putri Pusat Palu (1985). Beliau merupakan guru besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah yang kini juga menjabat sebagai rektor Institut Ilmu Al-Quran, Jakarta (2018-2022). Ustadzah Huzaemah juga aktif menjadi anggota MUI, ia menjadi anggota Komisi Fatwa MUI sejak tahun 1987 & anggota Dewan Syariah Nasional MUI sejak 1997 dan 2000. Beliau juga pernah menjabat sebagai ketua bidang Fatwa MUI. Pada 2000, ustadzah Huzaemah diangkat menjadi Ketua MUI Pusat Bidang Pengajian dan Pengembangan sosial.

Ustadzah Huzaemah menempuh pendidikan dasar hingga perguruan tinggi di lembaga pendidikan Alkhairaat.

Pada 1975, ia meraih gelar Sarjana Muda (BA) dari Fakultas Syariah Universitas Islam (Unis) Alkhairaat yang saat ini telah berubah nama menjadi Universitas Alkhairaat (Unisa). Berselang dua tahun, ustadzah melanjutkan studinya ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir hingga meraih gelar Master of Arts (MA) pada 1981 dan gelar doktor pada 1984 yang masing-masing mendapatkan predikat memuaskan (yudicium cumlaude).

Setelah menamatkan pendidikan di Universitas Alkhairaat tahun 1975, ustadzah Huzaemah menyempatkan diri untuk mengabdi di Alkhairaat. Pada tahun 1985, Hj. Syarifah Sadiyah binti Idrus bin Salim Aljufri mengangkat ustadzah Huzaemah sebagai pimpinan Ponpes Alkhairaat Putri Pusat Palu.

Tahun 1992-1996 sebagai anggota POKJA MENUPW. Tahun 1994-1998, ustadzah Huzaemah diangkat sebagai Ketua Pusat Pembelajaran Wanita IAIN Jakarta. Tahun 1996, ustadzah Huzaemah menjabat Ketua Pengurus Besar Persatuan Wanita Islam Alkhairaat Pusat. Tahun 1998, beliau memperoleh penghargaan sebagai salah seorang Tokoh Peningkatan Peranan Wanita dari Menteri Wanita. Pada 2018, Huzaemah menjadi Pembantu Dekan I di Fakultas Syariah dah Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan menjabat direktur Program Pascasarjana Institut Ilmu al-Quran (IIQ) dan sekaligus Rektor Institut Ilmu Alquran periode 2014-2018 dan berlanjut 2018-2022. Huzaemah mengajar di tiga universtas, yaitu UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan Universitas Indonesia. Selain aktif di dunia akademik, Huzaemah juga pernah menjadi anggota dewan pengawas syariah di Bank Niaga Syariah pada 2000.

Berita lain: HPA Tarakan Gelar Milad Alkhairaat ke 91 Tahun

Tulisan ustadzah Huzaemah telah menghiasai banyak majalah dan media seperti, Majalah Ahkam, Harkat, Akrab dan Studia Islamika. Beliau juga mengisi Forum Konsultasi Agama Islam dalam majalah PARAS.
Beberapa karya ustadzah Huzaemah yang telah diterbitkan antara lain, Pandangan Islam tentang Gender, Pengantar Perbandingan Mahzab, Konsep Wanita dalam Pandangan Islam, Fiqih Perempuan Kontemporer, Masail Fiqhiyah: Kajian Fiqih Kontemporer.

MUST READ

Ince Ami Sosok Khadijah di Alkhairaat

0
Hj. Ince Ami, atau yang karib disapa Ite, adalah salah seorang istri dari pendiri Yayasan Pendidikan Islam Alkhairaat, Habib Idrus bin Salim Aljufri (Guru...