Home Blog

Tahlilan Dan Doa 40 Hari Wafatnya Habib Saggaf Aljufri

0

Kamis (16/9/2021) merupakan 40 hari wafatnya Ketua Utama Alkhairaat, Habib Saggaf Aljufri.

Pihak keluarga Alkhairaat pun mengadakan acara doa dan tahlilan di Pondok Pesantren (Ponpes) Alkhairaat Madinatul Ilmi, yang dihadiri oleh ratusan Abnaul Khairaat.

Hal tersebut terlihat dari unggahan video siaran langsung Facebook Humas Universitas Alkhairaat (Unisa), @unisapalu, dikutip Alkhairaat.sch.id, Jumat, (17/9/2021).

Dalam video unggahan itu, tampak hadir beberapa pejabat negar seperti, Wakil Ketua MPR-RI, Prof. Dr. Ir. Fadel Muhammad Al-Haddar, Anggota DPD-RI, DR. Saleh Aljufri, Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Rusdy Mastura, Gubernur Maluku Utara (Malut), Ustad Abdul Ghani Kasuba, Lc., Bupati Sigi, Mohamad Irwan Lapatta, M.Si., dan Drs. Ridwan Yalidjama.

Turut hadir dalam acara tersebut beberapa petinggi dan pimpinan lembaga Alkhairaat seperti, PLT. Ketua Utama Alkhairaat, DR. Alwi Aljfuri, Ketua Umum PB Alkhairaat, Habib Ali Aljufri, Rektor Universitas Alkhairaat, DR. Umar al-Attas, S.Pi.,M.Si., Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Alkhairaat Putri, Habib DR. Hasan Alhabsyi, Lc., M.Ag., Pimpinan Ponpes Madinatul Ilmi, Habib DR. Ali Aljufri, Pimpinan Ponpes Alkhairaat Putra, Habib Idrus bin Abdillah Aljufri.

Berita lain: Ince Ami Sosok Khadijah di Alkhairaat

Acara dimulai dengan pembacaan Tahlil yang dipimpin oleh Habib DR. Hasan Alhabsyi, Lc., M.Ag., dan pembacaan Doa Tahlil sekaligus sambutan oleh Habib Ali Aljufri.

Pembacaan Tahlil 40 hari wafatnya Almarhum Habib Saggaf Aljufri dipimpin oleh Habib Hasan Alhabsyi
Dalam sambutannya, Habib Ali Aljufri menceritakan sebuah kisah tentang pertemuan antara ustad Saleh yang berasal dari Morowali dengan Almarhum Habib Saggaf Aljufri. Dalam pertemuan terebut, ustad Saleh meminta untuk pensiun mengajar karena sudah lanjut usia (65 tahun lebih). Namun keinginan Ustad Saleh itu ditolak oleh Habib Saggaf Aljufri.

Habib DR. Hasan Alhabsyi, Lc, M.Ag., pimpin pembacaan Tahlil

Pembacaan Doa sekaligus sambutan oleh Habib Ali Aljufri, Ketua Umum PB Alkhairaat
“Habib Saggaf Aljufri berkata kepada Ustad Saleh: Nt pernah ana ajar. Dan sampai sekarang saya masih mengajar,” ungkap Ketua Umum PB Alkhairaat.

Pembacaan Doa dan Sambutan oleh Habib Ali Aljufri, Lc.

Menurut Habib Ali, mengajar merupakan amanah dari pendiri Alkhairaat, Habib Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua).

“Kami berharap Abnaul Khairaat yang punya ilmu, sampaikan ilmu itu. Untuk kita kembangkan apa yang jadi cita-cita pendiri Alkhairaat. Semoga kita akan mendapat dan bersama Habib Idrus di Hari Kebangkitan nanti,” tutup Habib Ali Aljufri.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Gubernur Maluku Utara, Ustad Ghani Kasuba, Lc., yang menceritakan kisah tentang kegelisahan Guru Tua sebelum wafat karena tidak adanya Ustad Saggaf Aljufri di Kota Palu.

Berita lain: HPA Tarakan Gelar Milad Alkhairaat ke 91 Tahun

Sambutan dari murid Guru Tua, Ustad Abdul Ghani Kasuba, Lc.
“Habib Idrus saat itu hanya tanya mana Saggaf. Sampai mau meninggal. Ada bahasa beliau waktu itu katanya mau ke Hadramaut. Menurut Almarhumah Ite (Ince Ami istri Guru Tua) itu adalah isyarat mau meninggal,” ungkap Ustad Ghani.

Murid Guru Tua, Ustad Abdul ghani Kasuba, Lc.

Ustad Ghani menambahkan bahwa palu ini penuh dengan orang-orang keramat. Dimana Guru Tua dan Habib Saggaf telah tinggalkan generasi yang luar biasa.

“Silahkan mau bikin Alkhairaat yang namanya apa, Alkhairaat Nur inikah, Alkhairaat inikah, silahkan. Kita bikin masing-masing tapi, aset itu kita bikin jangan sampai kita saling bertabrakan, sehingga kita melupakan orang-orang yang membangun, yang berjasa dengan Alkhairaat ditempat itu,” ujar Ustad Ghani.

“Kepada keturunan dari Habib Idrus (Guru Tua) untuk satukan langkah, jangan sampai kita yang ditabrakan oleh orang lain, akhirnya kita akan berantakan dan tidak dapatkan apa-apa,” tambah Ustad Ghani.

Selanjutnya dilanjutkan denagn sambutan dari Wakil Ketua MPR-RI, Prof. Dr. Ir. Fadel Muhammad Al-Haddar, Anggota DPD-RI yang menceritakan tentang amanah dari Ketua Utama Alkhairaat mengenai pucuk pimpinan Alkhairaat.

Berita lain: Ribuan Isak Tangis di Peristirahatan Terakhir Syarifah Sadiyah Aljufri

Sambutan dari Wakil Ketua MPR-RI, Prof. Fadel Muhammad.
“Kami yang lalu sudah rapat berkali-kali, bicara, tetap beliau (Almarhum Habib Saggaf Aljufri) mengatakan hanya mengangkat, yang saya hormati saudara, Habib Alwi, PLT Ketua Utama yang diangkat oleh beliau sendiri, dan PB-nya tetap Habib Ali,” ujar mantan Gubernur Gorontalo itu.

Sambutan Prof. Dr. Ir. Fadel Muhammad Al-Haddar, Wakil Ketua MPr-RI.

“Kita ikut apa yang merupakan amanah, pesan yang sudah ada, mengalir seperti air, dan insya Allah akan sampai saatnya kita meneruskan bersama-sama Alkhairaat,” tutup Fadel.

Selanjutnya sambutan dilanjutkan oleh DR. Alwi bin Saggaf Aljufri, MA., yang menceritakan tentang nasehat-nasehat yang diceritakan oleh Almarhum ayahanda ketika ia masih kecil.

Sambutan PLT Ketua Utama, DR. Alwi Aljufri, Lc, MA.

Sambutan dari Plt. Ketua Utama Alkhairaat, DR. Alwi bin Saggaf Aljufri.
“Buka mata, buka telinga, tutup mulut,” ungkap Plt Ketua Utama itu.

Pesan pertama, Buka Mata, menurutnya ini adalah anjuran untuk melakukan sesuatu itu dengan objektif, bukan subjektif.

“Lakukan sesuatu itu berdasarkan objektivitas, jangan subjektivitas, jangan berdiri diatas asumsi, jangan ada like dan dislike, tinggalkan itu semua,” ujarnya.

Pesan kedua, Buka Telinga, artinya kita jangan tipis telinga.

“Dengar kritikan, dengar masukan yang membangun,” ujarnya.

DR. Alwi Aljufri mengungkapkan saat dirinya berumur 15 tahun, ia pernah ditegur oleh ayahanda karena dirinya banyak salah dalam membaca. Melihat dirinya yang tidak terima ditegur, ayahanda kemudian berkata:

“Seseorang itu yang mau jadi pemimpin harus siap menerima kritikan, harus siap menerima teguran,” ungkapnya.

Pesan ketiga, Tutup Mulut, menurutnya pesan ini berhubungan dengan agama seseorang.

“Dari baiknya Islamnya seseorang, meninggalkan hal-hal yang bukan urusanya. Disamping menjaga prilaku, sikap, mulut jangan ada dusta,” tambahnya.

DR. Alwi Aljufri kemudian menceritakan tentang perjalanan beliau bersama ayahanda yang menurutnya adalah pesan terakhir dari Almarhum.

“Bagaimana kita bersama-sama untuk menjaga warisan ini agar tetap jaya seperti apa yang dikatakan oleh pendahulu-pendahulu kita semua,” tutupnya.